Horas’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Father ( Monto Christo) and Mother (Shinta Dewi)

Posted by horasio on May 5, 2011

This is my parents picture on 2o11. My father perhaps 63 and my mother 56 years old.

 

Posted in PERSONAL | Leave a Comment »

Top Selebrity Gamers

Posted by horasio on November 22, 2010

Sebagai homo ludens, manusia diberi anugerah menikmati hidup untuk bermain. Dimulai dari yang sederhana seperti teka-teki, adu pintar, adu kecepatan, kekuatan atau keberuntungan. Beragam permainan muncul dari masa ke masa di berbagai peradaban. Kini, terima kasih untuk teknologi abad 21, kita dapat bermain dalam dunia virtual, bahkan bersama banyak orang lain sekaligus. Seiring waktu, videogame dan game online berubah menjadi lifestyle.

Nah, menyangkut trend dan popularitas, rasanya akan lebih pas jika kita mengetahui sejumlah selebritis yang terindikasi sebagai geek / games addict berikut ini:

10. Seth Rogen

Seorang reporter pernah melakukan interview dengan komedian muda asal Canada ini. Mau tahu jawaban Rogen saat ditanya soal games? Seriously, bagaimana mungkin Anda mengaitkan pertanyaan videogame untuk menilai kemampuan akting saya? Saya akan menjawabnya jika anda benar-benar seorang gamer, sebab saya seorang gamer,” balas Rogen sambil tersenyum.

9. Soulja Boy

Rapper generasi masa kini yang populer dengan single hits-nya berjudul “Crank That” ternyata penggemar berat Wii. Selain menghabiskan waktu bermain videogame bersama kolega, penyanyi yang bernama asli DeAndre Cortez Way juga meluangkan waktu bermain Wii Fit ataupun game ala puzzle seperti Braid dengan keluarga dan anak-anaknya.

8. Tiga aktris cantik Hollywood

* Mila Kunis – Mau tahu aktivitas Mila Kunis selain di dunia acting? Aktris serial “That 70s Show” and “Family Guy” ini terlibat dalam produksi videogame Saints Row dan Family Guy. Jangan terkejut pula kalau pemilik wajah manis ini menghabiskan waktu senggangnya untuk login di World of Warcraft.

* Hmm, bagaimana dengan Cameron Diaz? Ternyata aktris beken berkaki panjang ini juga seorang fans setia WOW.

* Megan Fox – Transformer atau Mortal Combat, itu akan menjadi jawaban Megan Fox kalau ditanya game kegemaran. Kalau penasaran, bisa melihat langsung petikan wawancaranya di: http://www.whattheyplay.com/features/megan-fox-celebrity-gamer/

7. Charlie Sheen

Simbol dari kaum pria paruh baya berstatus lajang di Amerika Serikat melekat pada dirinya lantaran serial TV “Two and a Half Man” dan “Family Guy”. Charlie Sheen punya seribu satu cara mendapatkan hati perempuan, namun di sela-sela keseriusan menghafal script naskah, Sheen juga termasuk tekun kalau sudah bermain game PC favoritnya seperti DnD (Dungeons and Dragons). Apakah itu rahasianya, dengan bermain game DnD makanya dia pakar dalam menarik hati perempuan?😀

6. Jack Black

5. Wil Wheaton

Salah satu personel serial StarTrek: The Next Generation ini mulai menulis hobi baru di blog-nya tentang poker online pada tahun 2003. Setahun berikutnya, Wheaton mengikuti turnamen Texas Hold ‘em Poker di Las Vegas. Pada tanggal 23 Juni 2005, Wheaton bergabung dengan Team PokerStars dan menjadi guest speaker. Baru kemudian mundur pada tahun 2007, dan mulai fokus untuk menggelar tournament poker di Europa dan Asian.

4. Robin Williams

Dalam sebuah wawancara dengan TV Late Show yang dipandu Jimmi Fallon, aktor kenamaan Robin Williams mengaku ikut bermain game, diantaranya adalah Call of Duty. Untuk itu, Robin memang harus selalu menggunakan ID anonymous selama login biar tidak dikenal oleh para fansnya.

3. Samuel L. Jackson

Di balik sosok kerasnya, aktor laga ini memilih vidogame sebagai hiburan yang bermanfaat. Ia bahkan bersedia menjadi host Video Game Award di Spike TV dengan satu alasan: “videogame telah menjadi budaya alternatif di Amerika Serikat”. Selain punya beberapa game konsol favorit, Samuel juga mengaku bermain MMO seperti halnya Eve online.

2. Matthew Perry.

Dirinya hampir tak punya waktu luang saat masih menjalani sukses bersama serial TV favorit, Friends. Namun, ketika serial tersebut dihentikan, Matthew Perry pun ternyata tak sulit menemukan kesibukan baru, yakni bermain game seperti Fall Out 3 di Xbox 360. Saking seriusnya bermain, Perry bahkan harus mendapat perawatan karena otot tangannya cedera akibat terlalu lama bermain. Apakah anda kapok, Matthew? “Tentu tidak,” jawabnya.

1. Vin Diesel

Sukses menjadi produser sekaligus membintangi film Chronicles of Riddick, Hitman, Fast and Furious, dan Fast Five, akhirnya menahbiskan Vin Diesel sebagai simbol oleh para game geek karena 3 alasan utama, yaitu Kaya, Populer, dan “feels proud to be a gamer!” Semasa muda Vin sudah menggandrungi RPG seperti DnD (Dungeons&Dragons) di PCnya. Teranyar, bersama Ubisoft ia meluncurkan game Wheelman untuk PS3 dan Xbox 360.

* artikel ini dibuat dari berbagai sumber dan telah dipublish di portal game Indonesia http://www.klikgame.com/

Posted in Uncategorized | Tagged: , , | Leave a Comment »

Majalah Tempo juni 2010 Lenyap (Disita ??)

Posted by horasio on July 4, 2010

Majalah Tempo Edisi Terbaru yang terbit Senin, (28/6) hilang dari pasaran sejak pukul 04.00 WIB. Sejumlah pelanggan dan pembaca menelpon ke kantor redaksi Majalah Tempo, Jalan Proklamasi 72 Jakarta Pusat menanyakan kenapa majalah ini tak terlihat di pasaran.

Salah satu agen Majalah Tempo di kawasan Pramuka mengaku, tumpukan majalah yang baru keluar dari percetakan itu sudah diborong sejak pukul 04.00 WIB oleh sekelompok orang. “Tadi subuh, sudah diborong orang mirip polisi. Tapi mereka tidak berpakaian dinas” kata Saragih kepada Tempo, Senin (28/6).

Terbit dengan Cover ” Rekening Gendut Perwira Polisi”, Majalah pekan ini bergambar seorang polisi tengah memegang seutas tali yang diikatkan pada tiga babi kecil berwarna merah muda diduga menjadi sebab habisnya majalah Tempo dari peredaran.

Edisi kali ini membuat laporan utama soal rekening jumbo para jenderal polisi. Laporan ini juga memuat indikasi rekening para jenderal di Mabes Polri yang mencurigakan.

Hasil analisis Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menemukan ada puluhan miliar rupiah yang masuk ke rekening para Jenderal Polisi. Duit itu mengalir dari pihak ketiga tanpa kejelasan aktivitas bisnis yang dilakukan.

Posted in Uncategorized | Tagged: , , , | Leave a Comment »

The Leadership

Posted by horasio on March 1, 2010

Beberapa cara yang bisa membantu dan menginspirasi Anda untuk membangun tim yang kokoh, produktif dan terus berkembang.

1. Samakan persepsi, tujuan, target dan etos kerja, lalu sosialisasikan kepada setiap anggota tim. Di awal pembentukan tim atau saat Anda masuk sebagai pemimpin ke dalam sebuah tim , sampaikan kepada semua anggota tentang target, tujuan dan etos kerja yang ingin Anda aplikasikan dalam tim. Kemudian berilah kesempatan pada anggota tim Anda untuk memberikan pendapat mereka mengenai hal-hal yang sudah Anda sampaikan. Bebaskan mereka untuk berdiskusi dan mengutarakan keberatan, persetujuan atau bahkan ide mereka. Pada akhirnya setiap karyawan akan merasa bahwa mereka punya andil dalam setiap pengambilan keputusan . Dengan demikian akan timbul perasaan untuk wajib mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil sendiri.

2. Pastikan setiap anggota tim tahu tanggung jawab dan job.desc mereka. Tentu saja Anda sebagai pemimpin tidak hanya bertugas mengelola tugas anggota Anda, juga harus memahami setiap aktifitas dan kesulitan yang mereka hadapi. Karena setiap jenis pekerjaan dalam tim terkait antara satu dengan lainnya, maka prosedur yang Anda tetapkan juga harus membuat pekerjaan mereka jadi lebih efisien.

3. Apakah setiap anggota tim Anda paham apa dampak setiap hasil pekerjaan mereka bagi produktifitas tim? Setiap anggota Anda seharusnya tahu bahwa apapun bentuk kontribusi mereka akan memberikan hasil bagi perusahaan jika dijalankan sesuai dengan misi, goal, prinsip dan visi perusahaan. Bahwa setiap dari mereka adalah bagian penting yang harus ada untuk mendukung kelangsungan dan berkembangnya perusahaan. Perasaan being important adalah salah satu cara efektif untuk membangun semangat kerja.

4. Ingatkan tentang komitmen awal. Saat semangat dan kinerja kerja tim mulai berkurang, Anda wajib boost semangat mereka kembali dengan mengingatkan bahwa mereka memiliki bagian dalam pengambilan keputusan tentang target, goal dan etos budaya kerja kelompok, sehingga setiap anggota tim memiliki komitmen untuk melanjutkan hal yang sudah mereka putuskan sendiri.

5. Apakah anggota tim Anda sudah merasa dihargai? Apakah Anda tahu bahwa dengan meng-update keterampilan mereka melalui training atau seminar yang dibiayai kantor, adalah satu cara efektif yang menunjukkan bahwa Anda menghargai karyawan tersebut? Keuntungan akan diperoleh baik oleh perusahaan maupun si karyawan sendiri; keterampilan mereka adalah untuk meningkatkan produktifitas kantor, dan mereka memiliki semangat karena diberikan kesempatan untuk berkembang.

6. Tantangan, excitement dan kesempatan. Rutinitas terkadang bisa monoton. Pekerjaan yang dulu menantang keterampilan dan kreatifitas bisa saja lama-lama jadi membosankan sehingga bisa melemahkan semangat kerja. Pastikan Anda memberi kesempatan bagi anggota tim Anda untuk kembali merasakan tantangan, spark dalam bekerja. Banyak cara yang bisa Anda lakukan; rotasi kerja, membebaskan mereka untuk menggunakan sistem kerja baru yang dirasa lebih efektif, atau memberikan tanggung jawab baru.

Posted in 1 | Leave a Comment »

DOA BAPA KAMI

Posted by horasio on January 25, 2010

Bapa kami yang di sorga,
dikuduskanlah nama-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu,
di bumi seperti di sorga.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya,
dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga telah mengampuni
orang yang bersalah kepada kami.
Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan,
tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.
[Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.
Amin.]

Bahasa Batak

Ale Amanami nadi banua ginjang.
Sai pinarbadia ma goarMu.
Sai ro ma harajaonMu.
Sai saut ma lomo ni rohaM
Di banua tonga on songon nadi banua ginjang.
Lehon ma tu hami sadari on hangoluan siapari.
Sesa ma dosanami, songon panesanami di dosa ni dongan namardosa tu hami.
Unang hami togihon tu pangunjunan.
Palua ma hami sian pangago.
[Ai Ho do nampuna harajaon dohot hagogoon rodi hasangapon saleleng ni lelengna.
Amen.]

Bahasa Jawa

Kanjeng Rama ing swargi
mugi asma Dalem kaluhurna
kraton Dalem kawiyarna
ing donya inggih kalampahana
karsa Dalem kados ing swargi
abdi dalem sami nyadhong paring Dalem rejeki ing sapunika
sakathahing lepat nyuwun pangapunten Dalem
déné kawula inggih ngapunten dhateng sesami
abdi dalem nyuwun lepat saking panggodha
saha tinebihna saking piawon
Amin.

Bahasa Sunda

Nun Ama di sawarga.
Mugi jenengan Ama nu suci dimulyakeun.
Karajaan Ama mugi rawuh.
Pangersa Ama mugi
laksana di dunya, sapertos di sawarga.
Mugi abdi dinten ieu dipaparin tedaeun nu picekapeun.
Sareng hapunten kalelepatan abdi, sakumaha abdi oge parantos ngahapunten ka nu gaduh kalelepatan ka abdi.
Mugi abdi ulah diterapan cocoba anu abot,
sawangsulna mugi di salametkeun ti panggoda Iblis.
[Wirehi nya Ama nu jumeneng Raja, kawasa sareng mulya, salalanggengna.
Amin.]

Posted in 1 | Leave a Comment »

Satu Hilang Dua Terbilang …..Selamat Jalan Rendra

Posted by horasio on August 6, 2009

Tiga hari sebelumnya, Mbah Surip telah lebih dulu tiada. Dan malam ini, 7 Agustus 2009, Indonesia kembali kehilangan salah satu senimannya, penyair W S Rendra.

Willibrordus Surendra Broto Rendra (lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935; umur 73 tahun) adalah penyair ternama yang kerap dijuluki sebagai “Burung Merak”. Ia mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta pada tahun 1967 dan juga Bengkel Teater Rendra di Depok.

Masa kecil
Rendra adalah anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayahnya adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa pada sekolah Katolik, Solo, di samping sebagai dramawan tradisional; sedangkan ibunya adalah penari serimpi di keraton Surakarta. Masa kecil hingga remaja Rendra dihabiskannya di kota kelahirannya itu

Pendidikan
* TK Marsudirini, Yayasan Kanisius.
* SD s/d SMU Katolik, St. Yosef, Solo – Tamat pada tahun 1955.
* Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta – Tidak tamat.
* mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 – 1967).

Rendra sebagai sastrawan
Bakat sastra Rendra sudah mulai terlihat ketika ia duduk di bangku SMP. Saat itu ia sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya. Bukan hanya menulis, ternyata ia juga piawai di atas panggung. Ia mementaskan beberapa dramanya, dan terutama tampil sebagai pembaca puisi yang sangat berbakat.

Ia petama kali mempublikasikan puisinya di media massa pada tahun 1952 melalui majalah Siasat. Setelah itu, puisi-puisinya pun lancar mengalir menghiasi berbagai majalah pada saat itu, seperti Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, dan Siasat Baru. Hal itu terus berlanjut seperti terlihat dalam majalah-majalah pada dekade selanjutnya, terutama majalah tahun 60-an dan tahun 70-an.

“Kaki Palsu” adalah drama pertamanya, dipentaskan ketika ia di SMP, dan “Orang-Orang di Tikungan Jalan” adalah drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah pertama dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta. Pada saat itu ia sudah duduk di SMA. Penghargaan itu membuatnya sangat bergairah untuk berkarya. Prof. A. Teeuw, di dalam bukunya Sastra Indonesia Modern II (1989), berpendapat bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern Rendra tidak termasuk ke dalam salah satu angkatan atau kelompok seperti Angkatan 45, Angkatan 60-an, atau Angkatan 70-an. Dari karya-karyanya terlihat bahwa ia mempunyai kepribadian dan kebebasan sendiri.

Karya-karya Rendra tidak hanya terkenal di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Jepang dan India.

Ia juga aktif mengikuti festival-festival di luar negeri, di antaranya The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979), The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985), Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985), The First New York Festival Of the Arts (1988), Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989), World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992), dan Tokyo Festival (1995).

Bengkel Teater
Pada tahun 1961, sepulang dari Amerika Serikat, Rendra mendirikan grup teater di Yogyakarta. Akan tetapi, grup itu terhenti karena ia pergi lagi ke Amerika Serikat. Ketika kembali lagi ke Indonesia (1968), ia membentuk kembali grup teater yang bernama Bengkel Teater. Bengkel Teater ini sangat terkenal di Indonesia dan memberi suasana baru dalam kehidupan teater di tanah air. Sampai sekarang Bengkel Teater masih berdiri dan menjadi basis bagi kegiatan keseniannya.

Penelitian tentang karya Rendra
Profesor Harry Aveling, seorang pakar sastra dari Australia yang besar perhatiannya terhadap kesusastraan Indonesia, telah membicarakan dan menerjemahkan beberapa bagian puisi Rendra dalam tulisannya yang berjudul “A Thematic History of Indonesian Poetry: 1920 to 1974”. Karya Rendra juga dibicarakan oleh seorang pakar sastra dari Jerman bernama Profesor Rainer Carle dalam bentuk disertasi yang berjudul Rendras Gedichtsammlungen (1957—1972): Ein Beitrag Zur Kenntnis der Zeitgenossichen Indonesischen Literatur. Verlag von Dietrich Reimer in Berlin: Hamburg 1977.

Penghargaan
* Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan , Yogyakarta (1954)
* Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)
* Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)
* Hadiah Akademi Jakarta (1975)
* Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)
* Penghargaan Adam Malik (1989)
* The S.E.A. Write Award (1996)
* Penghargaan Achmad Bakri (2006).

Kontroversi pernikahan, masuk Islam dan julukan Burung Merak
Baru pada usia 24 tahun, ia menemukan cinta pertama pada diri Sunarti Suwandi. Dari wanita yang dinikahinya pada 31 Maret 1959 itu, Rendra mendapat lima anak: Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Satu di antara muridnya adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, putri darah biru Keraton Yogyakarta, yang bersedia lebur dalam kehidupan spontan dan urakan di Bengkel Teater. Tugas Jeng Sito, begitu panggilan Rendra kepadanya, antara lain menyuapi dan memandikan keempat anak Rendra-Sunarti.

Ujung-ujungnya, ditemani Sunarti, Rendra melamar Sito untuk menjadi istri kedua, dan Sito menerimanya. Dia dinamis, aktif, dan punya kesehatan yang terjaga, tutur Sito tentang Rendra, kepada Kastoyo Ramelan dari Gatra. Satu-satunya kendala datang dari ayah Sito yang tidak mengizinkan putrinya, yang beragama Islam, dinikahi seorang pemuda Katolik. Tapi hal itu bukan halangan besar bagi Rendra. Ia yang pernah menulis litani dan mazmur, serta memerankan Yesus Kristus dalam lakon drama penyaliban Cinta dalam Luka, memilih untuk mengucapkan dua kalimat syahadat pada hari perkawinannya dengan Sito, 12 Agustus 1970, dengan saksi Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi.

Peristiwa itu, tak pelak lagi, mengundang berbagai komentar sinis seperti Rendra masuk Islam hanya untuk poligami. Terhadap tudingan tersebut, Rendra memberi alasan bahwa ketertarikannya pada Islam sesungguhnya sudah berlangsung lama. Terutama sejak persiapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Sito. Tapi alasan yang lebih prinsipil bagi Rendra, karena Islam bisa menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya selama ini: kemerdekaan individual sepenuhnya. Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai, katanya sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.

Toh kehidupannya dalam satu atap dengan dua istri menyebabkan Rendra dituding sebagai haus publisitas dan gemar popularitas. Tapi ia menanggapinya dengan ringan saja. Seperti saat ia menjamu seorang rekannya dari Australia di Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta. Ketika melihat seekor burung merak berjalan bersama dua betinanya, Rendra berseru sambil tertawa terbahak-bahak, Itu Rendra! Itu Rendra!. Sejak itu, julukan Burung Merak melekat padanya hingga kini. Dari Sitoresmi, ia mendapatkan empat anak: Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati
20090101_100518_ws-rendra2

Sang Burung Merak kembali mengibaskan keindahan sayapnya dengan mempersunting Ken Zuraida, istri ketiga yang memberinya dua anak: Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal karena tak lama sesudah kelahiran Maryam, Rendra menceraikan Sitoresmi pada 1979, dan Sunarti pada tahun 1981.

Beberapa karya
Drama
* Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)
* Bip Bop Rambaterata (Teater Mini Kata)
* SEKDA (1977)
* Selamatan Anak Cucu Sulaiman (dimainkan 2 kali)
* Mastodon dan Burung Kondor (1972)
* Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)- dimainkan dua kali
* Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)
* Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul “Oedipus Rex”)
* Lisistrata (terjemahan)
* Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles,
* Antigone (terjemahan dari karya Sophokles,
* Kasidah Barzanji (dimainkan dua kali)
* Perang Troya Tidak Akan Meletus (terjemahan dari karya Jean Giraudoux asli dalam bahasa Prancis: “La Guerre de Troie n’aura pas lieu”)
* Panembahan Reso (1986)
* Kisah Perjuangan Suku Naga (dimainkan 2 kali)

Sajak/Puisi
* Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
* Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
* Blues untuk Bonnie
* Empat Kumpulan Sajak
* Jangan Takut Ibu
* Mencari Bapak
* Nyanyian Angsa
* Pamphleten van een Dichter
* Perjuangan Suku Naga
* Pesan Pencopet kepada Pacarnya
* Potret Pembangunan Dalam Puisi
* Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
* Rick dari Corona
* Rumpun Alang-alang
* Sajak Potret Keluarga
* Sajak Rajawali
* Sajak Seonggok Jagung
* Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
* State of Emergency
* Surat Cinta

Posted in Human | 1 Comment »

AGENDA PAMERAN KONTEMPORER GALERI KECIL TIM

Posted by horasio on August 1, 2009

* GALERI A

28 Juli – 9 Agustus
Pameran “OK Video”
Kurator: Aminudin TH. Siregar
Kerjasama: Ruang Rupa

12-30 Agustus
Pameran Seni Rupa ”25th Edwin’s Gallery”
Kurator: Suwarno, Agung H & Farah Wardani
Kerjasama: Edwin’s Gallery

4-14 September
Inonesian-Chinese Contemporary Art “Back Nature”
Kurator: Rizki A Zaelani
Kerjasama: Venessa Art Link

3-13 Oktober
Pameran karya FX. Harsono
Kurator: Hendro Wiyanto
Kerjasama: Langgeng Gallery

16-31 Oktober
Pameran Seniman Muda Berprestasi
(Penerima Penghargaan/ Award )
Kurator: Rizki A Zaelani
Penyelenggara: GNI

3-13 November
Pameran karya Yaari Ram (Amerika)
Kurator: Jim Supangkat
Kerjsama: Yaari Ram Gallery-Bali

17-29 November
Pameran karya Made Wianta
Kurator:
Kerjsama: O-house Gallery

3-13 Desember
Pameran karya Anusapati
Kurator: Adeline Ooi
Kerjasama: Cemeti Art House

16 Des-15 Januari 2010
Pameran Kerjasama “Indonesia-Philipina”
Kurator: Rizki A Zaelani dan Patrick Plores
Penyelenggara: GNI dan Museum Nasional Philipina

* * GALERI B

12 – 30 Agustus
Pameran Seni Rupa
Memperingati “25th Edwin’s Gallery
Kurator: Suwarno W, Farah W, Agung H
Kerjasama: Edwin’s Gallery

7 – 21 Oktober
Pameran Seni Visual
Karya: Mella Jaarsma
Kerjasma: Cemeti

12 – 22 November
Pameran Sketsa Ipe Ma’Ruf
(tentatif)

8 – 20 Desember
Pameran Tunggal I Wayan Suja
Kurator : Hardiman, Rizki A Zaelani
Kerjasma: Andi’s Gallery

* * *  GALERI C

19-30 Agustus
IVAA ARCHIVE EXPO 2009
Kurator: Farah wardani
Kerjasama: IVAA

Tanggal 7-21 Oktober
Pameran karya Mella Jaarsma
Kurator:
Kerjasama: Cemeti

Oktober – 8 November
Pameran Lukisan karya Nyoman Sujana Kenyem
Kurator: Eddy Sutriyono
Kerjasama: Fantastic Art Gallery

12-22 November
Pameran Tunggal I Made Alit “Tangenan”
Kurator: Hardiman

Posted in Art | Leave a Comment »

Tutup Usia: Mantan Presiden Filipina Aquino Susul Sir Bobby Robson

Posted by horasio on August 1, 2009

Mantan Presiden FilAQUINOipina yang terkenal menggulingkan  diktator Ferdinand Marcos dengan aksi people power -nya meninggal dunia di usia 76 tahun.  Sehari sebelumnya, Jumat 31 Juli 2009, legenda sepakbola asal Inggris  Bobby Robson (http://www.timesonline.co.uk/tol/sport/football/article6735659.ece) juga meninggal di usia 76 tahun akibat kanker.

Putra Aquino, Senator Benigno “Noynoy” Aquino III mengatakan ibunya meninggal dunia Sabtu (1/8) pukul 3.18 waktu setempat.

Aquino didiagnosa menderita kanker usur besar tahun lalu dan dirawat di rumah sakit selama lebih sebulan. Menurut Benigno, kanker telah menyebar ke seluruh organ dan kondisi mendiang terlalu lemah untuk menjalan kemoterapi.

Para pendukung dan simpatisan Aquino setiap hari selama sebulan memanjatkan doa di gereja di Manila dan seluruh negeri agar Aquino sehat.

Presiden Gloria Macapagal Arroyo yang kini dalam lawatan ke AS mengatakan dalam pernyataan, “Seluruh negeri bergabung atas wafatnya Aquino.” Arroyo mengumumkan masa berkabung nasional dan akan melaksanakan upacara pemakaman kenegaraan untuk mendiang.

Aquino menjadi presiden pada tahun 1986 hingga tahun 1992 setelah menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos dalam revolusi massa yang dikenal dengan sebutan “People’s Power”.

Aquino memimpin gerakan ini setelah suaminya, Benigno Aquino, ditembak mati di bandar udara Manila sekembalinya dari pengasingan di Amerika Serikat. Salah satu momen terpenting yang terekam media internasional terjadi saat Corazon Aquino menyeru agar warga Filipina memberikan suara untuk kubu oposisi dalam pemilihan dadakan tahun 1986.

Posted in Hot Today! | Leave a Comment »

ASTAGA ! ATM semakin BERESIKO

Posted by horasio on August 1, 2009

atm-cards_03

Alih-alih memasuki sistem baru bertransaksi dalam perekonomian, penggunaan ‘uang plastik’ dalam bentuk kartu ATM, Kredit card, dan sejenisnya menghadapi ancaman luar biasa serius. Seiring meningkatnya penggunaan jasa perbankan, aktivitas transaksi pun meningkat. Namun, sistem yang terkomputerisasi itu justru menjadi ‘celah’ bagi orang-orang yang memiliki keahlian, kemampuan, atau pun memang dilandasi motif ingin kaya untuk mengambil hak orang lain tanpa diketahui sang pemilik. Dan, media di Eropa, terutama di Inggris pun mulai menyampaikan kekhawatiran terhadap resiko yang dihadapi pemegang uang plastik itu.

Berikut petikan beritanya:

Card PINs traded at two for a dollar

http://www.timesonline.co.uk/tol/news/world/asia/article6735085.ece

Forums such as this, say analysts of cybercrime, have become the hubs of a £30 billion-a-year global industry that in 2008 alone spirited nearly 300 million items of supposedly secure information from the internet.

On one such forum, to which The Times gained access, a seller offers eBay accounts that appear to have impeccable reputations and 100 per cent buyer satisfaction levels — a disguise that could be used to perpetrate multiple frauds across the globe. Another is offering, for $10 (£6), a list of 30,000 “clean” British e-mail addresses that have not yet received spam and would therefore make easy targets. Skype accounts are also available, at a charge of 50 per cent of whatever financial gain the customer is able to make from them.

Over the past 18 months there has been an unprecedented growth not just in the volume of data theft, but in the sophistication of the attacks.

The problem, explained Bryan Sartin, head of the investigative response team at the US-based IT company Verizon Business, is that black-market forums have done their job too well: supply-and-demand economics have imposed themselves with catastrophic success. With the market now saturated with available data on tens of millions of credit card accounts, the online cost of a single credit card has plunged from $16 to 50 cents in a few months.

The glut of credit card information has prompted the hackers to go in quest of more valuable data loot, Mr Sartin said. The big money now is in stealing PINs and mothers’ maiden names along with the associated accounts. This has led to the successful execution of complex attack strategies previously thought only theoretically possible, he said.

The leap in sophistication of cybercrime is clear from the amount of verbal traffic on the forums. Analysts at TrendMicro, a Japanese company specialising in internet security, watched as a vendor sold software that can defeat the “breaker” programs that enable websites to differentiate between a human user and an automated disseminator of spam.

Verizon Business investigators watched an online auction for software that would give access to a particular cash register in a particular US branch of a large fast-food chain. Any time a customer used a debit or credit card to pay for their burgers, the PIN data would be diverted to the criminals. The hacking software eventually sold for $60,000.

Along with the complexity of the data heisting, the profile of the hackers has changed too. The dominance of the Russian Business Network — a much-feared association of cybercriminals rumoured to enjoy official protection in Moscow — has given way to new players, many operating from China.

This trend has accelerated as companies in the developed world have increasingly outsourced elements of their businesses to China. Stuart Witchell, senior vice-president of FTI-International Risk, an Asian-based risk consultancy, said that while hackers represent a significant threat to businesses, many data breaches are carried out by company insiders.

Investigators of one recent spate of PIN thefts believe that the enabling “sleeper” code was inserted into the software of a batch of credit card readers produced in a Chinese electronics factory on behalf of a European company.

Raimund Genes, the chief technical officer of TrendMicro, whose main business is protecting companies against viruses and other forms of online assault, says that since 2007 the average number of new “malware” samples his company has to process each month has risen from 270,000 to more than one million.

Mr Genes fears that the online cybercrime marketplaces have become so sophisticated that it may soon be impossible for the likes of TrendMicro and government agencies to penetrate them effectively.

Posted in Hot Today! | Leave a Comment »

Rockstar of the Century : Facebook !

Posted by horasio on July 29, 2009

andrew-keen_1452580c

Twitter’s Evan Williams, Facebook’s  Mark Zuckerberg and Sean Parker (formerly of Napster and Facebook)

Accidental Billionaires covers the remarkable period between the autumn of 2003 when Harvard university undergraduate and programming genius Mark Zuckerberg built the first version of the instantly viral TheFacebook.com social network to the autumn 2005 when Zuckerberg fired Silicon Valley bad-boy Sean Parker, Facebook’s first President. These years are marked by a predictable surfeit of young male sexual and financial lust and betrayal – primarily of fellow Harvard undergraduate Eduardo Saverin, the unfortunate mug who bankrolled Zuckerberg’s initial dream and then ended up with nothing when Facebook headed out west and relocated to Silicon Valley.

poundsignee

But what readers of Accidental Billionaires won’t find in Mezrich’s energetic narrative is much – if anything – about social media. The stunning irony about Facebook is that the world’s most popular social media network – valued at anywhere between 8 and 15 billion dollars and now with close to 200 million members – was founded (and is still run) by an eccentric, anti-social geek who wandered around Harvard in flip-flops and who showed up at a critical meeting with the legendary Silicon Valley venture capitalist Mike Moritz wearing a pair of “brightly coloured pyjamas.”

Described as “socially autistic”, “awkward”, “uncomfortable in his own skin” with a “dead fish handshake” and an extraordinarily “impassive” face, Zuckerberg – who true to his reclusive self, refused to talk with Mezrich for the book – is the great question mark, the Howard Hughes, at the seemingly vacuous centre of The Accidental Billionaires. Indeed, the only time this classic loner truly comes to life, Mezrich argues, is when Zuckerberg is all alone in front of a computer – “that glowing screen front of his face.” So much, then, for the cathartic communitarian promise of social media, with its supposedly magical ability to bring people together and socialise even somebody as clinically awkward and impassive as Mark Zuckerberg.

For all its sometimes slightly adolescent chatter about sex, money and betrayal, The Accidental Billionaire describes a decisive shift in the nature and economics of popular culture. Thirty years ago, obsessive, rebellious, socially dysfunctional geniuses like Mark Zuckerberg aspired to become multi millionaire rock stars; today, that dream has shifted to becoming an Internet billionaire.

As one Silicon Valley entrepreneur who grew up in San Francisco during the psychedelic Sixties said to me recently, “back then all the talented kids sat in their bedrooms strumming their guitars and planning to be in bands. Now they all spend all day and night in the front of computers wanting to found technology start-ups.”

Today, with the dramatic collapse of the traditional music business and the not unconnected rise of the Silicon Valley new media economy, the most illustrious and lucrative opportunities now open to young, Harvard educated counter-cultural elites like Mark Zuckerberg lie in plotting and orchestrating the digital revolution.Real_Color_Wheel_475

Even the language of the start-up and of rock and roll are similar. Back in 2004, on launching Facebook, Zuckerberg gave himself the rock star title of “founder, master and commander and enemy of the state.” Today, Zuckerberg – who runs a multi billion-dollar global company – has sharpened up his counter-cultural act. His current business card simply says: “I’m CEO – Bitch”.

It’s more than coincidental, therefore, that Sean Parker, the Silicon Valley networker who orchestrated Facebook’s first round of Silicon Valley financing, was also the co-founder of Napster, the viral music filesharing service that essentially legalised online theft, thereby almost single-handedly destroyed the old music business.

The Accidental Billionaires is a seductive narrative about the overnight fame – the real-time stream of girls and the silly money and the always-on excitement – that inevitably go with the success of building a viral Internet business. Rather than arcane computer operating systems or programming languages, this is a book that focuses on exclusive San Francisco nightclubs, roast Koala bear dinners (yuck) on board the yachts of wealthy investors and readily available Victoria Secrets’ models.

facebook1hdhd

Not only is Mark Zuckerberg coming to your local bookstore, but he’s also planning to show up on the screen of your local cinema. The Accidental Billionaires is being adapted by Aaron Sorkin, the creator of the “The West Wing” NBC television show and the movie Charlie Wilson’s War – for Hollywood. According to Variety, the movie – provisionally called The Social Network – will be produced by Hollywood insiders Scott Rudin, Michael De Luca, Dana Brunetti and, most notably, Kevin Spacey.

It’s not surprising that the Boston based Mezrich – who also wrote the New York Times best-selling Bringing Down the House about a scheme by MIT mathematicians to bust the Las Vegas casino cartel – has shifted his prodigious talent to Silicon Valley. That’s where both the real money and the real action are these days. Perhaps he’ll follow up with another sizzling story of sex, money and betrayal about Jack Dorsey, Evan Williams and Biz Stone – the founders of Twitter, today’s hot new real-time social network competitor to Facebook.

Last month, the king of pop died in Los Angeles. But the new kings of pop in the early 21st century, the successors to Michael Jackson’s crown, are as likely to be entrepreneurs as artists. Popular culture is being revolutionised by radical new technologies such as Mark Zuckerberg’s Facebook. Ben Mezrich’s The Accidental Billionaires is an entertaining and provocative introduction to the cultural consequences of this revolution.

Posted in Hot Today! | Leave a Comment »