Horas’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Tragic

Posted by horasio on February 14, 2009

Jumat, 13 Februari 2009 | 21:09 WIB

MASIH ingat kasus pemulung mendorong-dorong jenazah anaknya yang terjadi di Jakarta beberapa tahun lalu? Kasus serupa kini terjadi di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat (13/2) sore kemarin.

Ceritanya bermula ketika Sipri Amanut (2) sakit diare sejak Minggu (8/2) lalu. Karena tak ada biaya, ibunya, Ny Yacobus Amanut (37) tak segera membawa anaknya itu ke rumah sakit.

Sampai dengan hari Kamis (12/2), kondisi Sipri makin memburuk. Maka, Ny Amanut akhirnya membawa Sipri ke RSUD WZ Yohannes Kupang. Meski sempat mendapat perawatan, nyawa Sipri tetap tak tertolong. Jumat (13/2) dini hari, Sipri akhirnya meninggal.

Seperti layaknya pasien meninggal di rumah sakit, jenazah Sipro kemudian disemayamkan di ruang jenazah, meskipun tidak mendapatkan perawatan semestinya.

Sekitar pukul 15.00, Amanut minta ambulans mengantar jenazah anaknya ke rumah duka di Kelurahan Liliba yang berjarak 5 kilometer dari rumah sakit. Untuk jasa pengantaran jenazah itu ia harus membayar Rp 300.000.

Kepada petugas, Amanut mengatakan tak punya uang, dan petugas pun berlalu. Ditunggu-tunggu sampai satu jam, Amanut tak mendapat kepastian soal ambulans. Maka, Amanut pun menggendong sendiri jenazah anaknya menuju rumahnya.

Sekitar 500 meter keluar dari RSUD, sebuah mobil pikap yang baru pulang dari mengantar bahan bangunan berpapasan dengannya. Si sopir baik hati turun dan menanyakan apa yang terjadi. Atas nama rasa kemanusiaan, sopir itu akhirnya mengantarkan Amanut dan jenazah anaknya pulang.

Ketika berita mengenaskan itu dikonfirmasi ke Kepala Seksi Pelayanan RSUD Kupang dr Frangki Touw, ia mengaku belum mengatahui kejadian itu. Menurut dia, kalau kalau ada kartu Jamkesmas dari orangtua maka pasien, termasuk jenazah pasien, dilayani seperti biasa.

Kalau pun keluarga tidak punya kartu Jamkesmas, sebenarnya keluarga pasien bisa mengurus surat keterangan miskin dari kelurahan atau RT setempat sebelum masuk rumah sakit.

“Kalau tidak ada surat keterangan atau kartu miskin sama sekali, (memang) agak sulit,” katanya.

Mengenai layanan ambulans, Frangki menyatakan sudah banyak jenazah dari keluarga miskin diantar cuma-cuma. Syaratnya, ada surat keterangan.

Pertanyaannya, apakah hanya karena tidak ada surat keterangan miskin atau jamkesmas itu maka seorang ibu harus menggendong jenazah anaknya sendiri dari rumah sakit?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: